Minggu, 29 April 2012

222. Lompatan Sang Belalang


Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya. Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain. Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya. Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya,

“Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh ?”.

Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan, “Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan”.

Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah mengalami hal yang sama dengan belalang. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga, seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita.

Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita tanpa pernah berpikir benarkah Anda separah itu? Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri. Tidakkah Anda pernah mempertanyakan kepada nurani Anda bahwa Anda bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau Anda mau menyingkirkan “kotak” itu?

Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai sesuatu yang selama ini Anda anggap diluar batas kemampuan Anda? Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami.

Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai apapun yang Anda ingin capai. Sakit memang, lelah memang, tapi bila Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar. Kehidupan Anda akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup pilihan Anda. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan untuk Anda.

Jumat, 27 April 2012

221. Cinta Ibu Dalam Sebuah Lonceng


Di sebuah desa ada seorang ibu yang sudah tua hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu seringkali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam, dan banyak lagi yang membuat si ibu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun begitu, ibu tua itu selalu berdo’a agar anaknya dapat sadar dan bertaubat atas perbuatannya.
 
Suatu hari, si anak kembali mencuri di sebuah rumah penduduk desa. Namun malang nasib anak itu, dia tertangkap oleh penduduk, lalu dibawa ke pengadilan kerajaan sesuai dengan kebiasaan kerajaan.
 
Setelah ditimbang berdasarkan seringnya ia mencuri, maka tanpa ampun lagi anak lelaki tersebut dijatuhi hukuman pancung. Pengumuman hukuman tersebut disebarkan keseluruh desa. Hukuman pancung akan dilaksanakan esok harinya di depan rakyat desa kerajaan tepat pada saat lonceng kerajaan berdentang menandakan pukul enam pagi.
 
Berita hukuman itu akhirnya sampai ke telinga ibunya. Ia menangis meratapi anak yang sangat dicintainya, sambil berdo’a kepada Allah SWT. Dengan tertatih-tatih si ibu tersebut mendatangi raja dan memohon agar anaknya dibebaskan, tapi keputusan raja sudah bulat, si anak harus tetap menjalani hukuman. Dengan hati hancur si ibu kembali ke rumah.
 
Keesokan harinya, di tempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong-bondong untuk menyaksikan hukuman pancung tersebut.
 
Sang algojo sudah siap dengan pancungnya, dan si anak tadi sudah pasrah menantikan saat ajal menjemputnya. Terbayang di mata si anak wajah ibunya yang sudah tua; tanpa terasa dia menangis menyesali perbuatannya.
 
Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan, lonceng kerajaan belum juga berdentang. Suasana mulai gaduh. Sudah lewat sepuluh menit dari waktunya. Akhirnya didatangilah petugas yang membunyikan lonceng di kerajaan. Petugas yang membunyikan lonceng tersebut juga mengaku heran, karena sudah dari tadi dia menarik lonceng tetapi suara dentangnya tidak terdengar.
 
Ketika mereka sedang terheran-heran, tiba-tiba dari tali yang dipegannya untuk membunyikan lonceng mengalir darah. Darah tersebut datangnya dari atas yang berasal dari tempat lonceng diikat.
 
Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidik sumber darah itu.
 
Tahukah anda apa yang terjadi? Ternyata di dalam lonceng besar itu, ditemui tubuh seorang ibu tua dengan kepala pecah berlumuran darah.
 
Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang mengakibatkan lonceng tidak berbunyi, sebagai gantinya kepalanya yang terbentur ke dinding lonceng. Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sedangkan si anak meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Dia menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya, si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng tersebut serta memeluk besi di dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya, agar ketika lonceg pagi dibunyikan tidak terdengar dentangnya saat hukuman pancung dilaksanakan.
 
“Sungguh cinta seorang ibu kepada anaknya hingga akhir hayatnya”
 
Source : http://arissugianto.blogspot.com/2010/04/cinta-ibu-dalam-sebuah-lonceng.html

Kamis, 26 April 2012

220. Bersiap Menghadapi Kehilangan

Bila Anda siap MENDAPATKAN, sudahkan Anda juga siap KEHILANGAN?

Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Dari mulai marah-marah, menangis, protes pada takdir, hingga bunuh diri. Masih ingatkah Anda pada tokoh-tokoh ternama, yang tega membunuh diri sendiri hanya karena sukses mereka terancam pudar? Barangkali kisah yang saya adaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns berikut ini, dapat memberikan inspirasi.

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur.

Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang- barang rumah tangga yang layak.
Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan. Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.

"Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok- penyok," gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank. "Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno," kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan toples. Setelah ia membeli lembaran kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal.

Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar.

Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, "Apa yang terjadi?

Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi".

Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN Allah. Benar kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

Ada kalimat yang saya suka sekali dalam menempatkan diri dalam kehidupan:

" Kemenangan Hidup bukan berhasil mendapat banyak, tetapi ada pada kemampuan menikmati apa yang didapat tanpa menguasai. HIDUPLAH SEPERTI ANAK-ANAK YANG DAPAT MENIKMATI TANPA HARUS MENGUASAI"

Source : http://ekojuli.wordpress.com/2010/05/21/bersiap-menghadapi-kehilangan/

Rabu, 25 April 2012

219. Seberapa Pintarkah Anda ?


Sebuah Tantangan Untuk Anda-Anda untuk mengetahui seberapa pintarkah Anda ?

Test IQ Anda di sini


D ibawah ini ada empat ( 4 ) pertanyaan dan satu pertanyaan bonus. Jawablah semua tanpa banyak pikir. Cuma boleh berpikir sedetik, jawab segera. OK?

Ayo cari tahu, seberapa pintar anda… .

Siap? GO!!! (gulung layar)

-


Pertanyaan pertama:

Anda ikut berlomba. Anda menyalip orang di posisi nomor dua. Sekarang posisi anda nomor berapa?


~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~


Jawaban: Jika anda menjawab Nomor Satu, anda SALAH BESAR! Jika anda menyalip orang nomor dua, sekarang andalah yang ada di posisi nomor dua!

Jangan ngaco lagi, ya?.
Sekarang jawab pertanyaan kedua,
tapi jangan berpikir lebih banyak daripada ketika menjawab pertanyaan pertama tadi, OK ?

Pertanyaan Kedua:
Jika anda menyalip orang di posisi terakhir, sekarang anda di posisi…?
(gulung layar)




~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~


Jawaban: Jika anda menjawab anda orang kedua dari terakhir, anda SALAH LAGI… Coba, bagaimana caranya menyalip orang TERAKHIR?

Anda sebetulnya tidak terlalu pintar, ‘ kan ?

Pertanyaan ketiga:
Hitung-hitungan yang pelik! Catatan: kerjakan di pikiran anda saja.
JANGAN gunakan kertas atau pensil atau kalkulator. Cobalah.

Ambil 1000 dan tambahkan 40 padanya. Sekarang tambahkan 1000 lagi. Sekarang tambahkan 30 . !
Tambahkan 1000 lagi< U> . Sekarang tambahkan 20. Sekarang tambahkan 1000
Sekarang tambahkan 10 . Berapa totalnya?

gulung layar…..

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~


Apakah hasilnya 5000 ?

Jawaban yang benar adalah 4100.

Kalau tidak percaya, cek dengan kalkulator!
Hari apes, ‘ kan ?
Mungkin di pertanyaan terakhir anda bisa benar…
….Mungkin.

Pertanyaan keempat:

Ayah Mary punya lima anak: 1. Nana, 2. Nene, 3. Nini,
4. Nono. Siapa nama anak kelima?


~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~


Apa anda menjawab Nunu?
BUKAN! Tentu saja bukan.
Anak kelima namanya Mary. Baca lagi pertanyaannya!

Okay, sekarang ronde bonus:

SEORANG bisu pergi ke toko dan ingin membeli sikat gigi. Dengan menirukan orang menggosok gigi, ia berhasil menyampaikan keinginannya pada penjaga toko dan ia berhasil membeli sikat gigi…
Berikutnya, seorang buta masuk ke toko itu dan ingin membeli kacamata hitam, bagaimana DIA menunjukkan keinginannya?



~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~


Langsung aja ngomong, dia kan gak bisu…



KIRIM TES INI UNTUK MEMBUAT FRUSTASI ORANG-ORANG PINTAR YANG ANDA KENAL!

sumber : http://nuks76.multiply.com

Selasa, 24 April 2012

218. 2 Buah Bibit Tanaman


Ada 2 buah bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit yang pertama berkata, “Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan akarku dalam-dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari, dan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku.”

Dan bibit itu tumbuh, makin menjulang.

Bibit yang kedua berguman. “Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan ku temui di bawah sana. Bukankah disana sangat gelap? dan jika kuteroboskan tunasku ke atas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang?Tunasku ini pasti akan terkoyak.

Apa yang terjadi jika tunasku terbukam, dan siput-siput mencoba untuk memakannya? dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman.”

Dan bibit itupun menunggu, dalam kesendirian.

Beberapa pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi, dan mencaploknya segera.

Renungan :

Memang, selalu saja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani. Namun, seringkali kita berada dalam kepesimisan, kengerian, keraguan, dan kebimbang-bimbangan yang kita ciptakan sendiri. Kita kerap terbuai dengan alasan-alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup. Karena hidup adalah pilihan, maka, hadapilah itu dengan gagah. Dan karena hidup adalah pilihan, pilihlah dengan bijak.

sumber : alyas-arnas.blogspot.com

Senin, 23 April 2012

217. Sebuah Jendela dan Seorang yang Sakit


Hidup adalah bagaimana cara kita memandang dan memahami kehidupan ini. Kebahagiaan terletak pada perspektif kita terhadap kehidupan ini.

Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang di antaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskan duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di kamar itu.

Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya.

Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.

Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya. Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indah semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.

“Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenag-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah.”

Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan detil, sedangkan pria yang lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu. Perasaanya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah.

Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk didekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Meski pria kedua tidak dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah.

Begitulah seterusnyam, dari hari ke hari. Dan, satu minggu pun berlalu.

Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring di dekat jendala itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu. Perawat itu menuruti kemauannya dengna senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.

Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahaan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG !!!

Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun.

“Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup” kata perawat itu.

Renungan :

Kita percaya, setiap kata selalu bermakna bagi setiap orang yang mendengarnya. Setiap kata, adalah layaknya pemicu, yang mampu menelisik sisi terdalam hati manusia, dan membuat kita melakukan sesuatu. Kata-kata, akan selalu memacu dan memicu kita untuk menggerakkan setiap anggota tubuh kita, dalam berpikir, dan bertindak.

Kita percaya, dalam kata-kata, tersimpan kekuatan yang sangat kuat. Dan kita telah sama-sama melihatnya dalam cerita tadi. Kekuatan kata-kata, akan selalu hadir pada kita yang percaya.

Kita percaya, kata-kata yang santun, sopan, penuh dengan kontribusi positif dalam setiap langkah manusia. Ujaran-ujaran yang bersemangat, tutur kata yang membangun selalu menghadirkan sisi terbaik dalam hidup kita. Ada hal-hal yang mempesona saat kita mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Menyampaikan keburukan, sebanding dengan setengah kemuraman, namun, menyampaikan kebahagiaan akan melipatgandakan kebahagiaan itu sendiri.

Minggu, 22 April 2012

216. Tukang Cukur yang Baik Hati


Ada seorang tukang cukur tua yang baik hati disebuah kota di United States. Suatu hari seorang penjual bunga datang kepadanya untuk memotong rambut. Selesai potong rambut,dia bermaksud membayar tetapi tukang cukur menjawab :

“Maaf, saya tidak dapat menerima uang dari mu. Saya melakukan pelayanan”.

Si penjual bunga sangat gembira dan meninggalkan tukang cukur tersebut.

Pada keesokan paginya, ketika si tukang cukur membuka toko, ada sebuah kartu ucapan terima kasih dan selusin bunga mawar yang telah menanti di depan pintu.

Seorang polisi datang untuk potong rambut dan dia pun bermaksud membayar setelah selesai dipotong rambutnya.

Tetapi, si tukang cukur pun menjawab :

“Maaf, saya tidak dapat menerima uang dari mu. Saya melakukan pelayanan”.

Si polisi pun sangat gembira dan meninggalkan tukang cukur tersebut.

Pada keesokan paginya,ketika si tukang cukur membuka toko, ada sebuah kartu ucapan terima kasih dan selusin donat yang telah menanti di depan pintu.

Dihari berikutnya datanglah seorang software engineer dari Indonesia untuk potong rambut, ketika dia hendak membayar, si tukang cukur pun menjawab :

“Maaf, saya tidak dapat menerima uang dari mu. Saya melakukan pelayanan”.

Si software engineering dari Indonesia pun amat sangat gembira dan meninggalkan tukang cukur tersebut.

Pada keesokan paginya, ketika si tukang cukur membuka toko, .. coba tebak!!! apa yang tukang cukur temukan di depan pintu ???????????? ????????????????

Dapatkah kamu menebaknya ???????????

Apakah kamu belum tau jawabannya??????????? ?

Ayo.Berfikirlah seperti orang Indonesia …..!!!!!!

-

-

Ok!!!!!OK!!! !!!!!!!!! !!!

Selusin orang Indonesia telah menunggu untuk potong rambut GRATIS !!!!!!!!!

Sabtu, 21 April 2012

215. Setiap Orang punya $86.400 setiap hari


Seandainya Anda mendapatkan uang tiap hari sebesar US $ 86.400 yg harus dihabiskan tiap hari dgn tanpa sisa satu cent pun juga, karena sisa uang yg tak terpakai akan di hapus sehingga tidak bisa ditabung ataupun dibawa ke hari esok. Pasti Anda akan manfaatkan uang itu sebaik mungkin. Kalau tidak bisa kita pakai sendiri semuanya, pasti kita akan berikan untuk amal ataupun orang yg membutuhkannya.

Wah ini sih hanya khayalannya mang Ucup aja, mana mungkin sih ada orang yg mau memberikan uang sebanyak itu untuk di hambur2kan tiap hari!

ADA! Tetapi bukan dalam bentuk US $ melainkan dlm bentuk waktu - TIME.

Tiap hari kita mendapatkan 86.400 detik yg bisa kita gunakan dan manfaatkan, waktu yg tidak di manfaatkan akan hilang sia2 begitu saja karena tidak akan ada yg bisa dibawa ataupun ditabung untuk hari esok. Disamping itu Anda pun tidak akan bisa mendapatkan lebih daripada waktu yg telah dijatahkan untuk Anda per hari.

Waktu tiap hari berjalan terus, tidak ada kekuasaan di dunia ini yg akan bisa menyetop jalannya waktu ataupun memutar balikannya. Waktu yg diberikan harus digunakan untuk hidup hari ini dan saat ini juga, tidak untuk hari esok, maka dari itu gunakanlah waktu ini sebaik mungkin entah untuk memelihara kesehatan, mendapatkan kebahagiaan ataupun sukses di dlm kehidupan Anda. Berikanlah makna di dlm kehidupan Anda bukan hanya untuk diri Anda sendiri saja melainkan juga untuk membahagiakan sesama manusia di dlm lingkungan kehidupan Anda.

Berikanlah waktu Anda dgn digabung oleh rasa kasih!

Untuk mengetahui nilainya waktu SATU TAHUN
Tanyakanlah kepada mahasiswa yg tidak lulus ujian.

Untuk mengetahui nilainya waktu SATU BULAN
Tanyakanlah kepada Ibu yg melahirkan bayi secara premature.

Untuk mengetahui nilainya waktu SATU MINGGU
tanyalah kepada redaksi dan editor dari majalah minggguan.

Untuk mengetahui nilainya waktu SATU JAM
tanyakanlah kepada seorang kekasih yg sedang menunggu kedatangan pacarnya.

Untuk mengetahui nilai waktu SATU MENIT
tanyakanlah kepada orang yg keterlambatan naik kereta api.

Untuk mengetahui nilai waktu SATU DETIK
tanyakanlah kepada seorang yg barusan saja mengalami musibah karena kelalaian dlm sedetik saja.

Yesterday is history, tommorow is mistery, today is a gift!
That’s why it’s called the present! ( present = hadiah )

Maka dari itu janganlah buang waktu yg Anda miliki, janganlah sia2akan waktu yg sedemikian berharganya. Bagikanlah sebagian dari waktu yg Anda miliki untuk seorang kawan/sobat. Pasti waktu yg Anda berikan tsb akan berbalik kembali seperti juga satu lingkaran walaupun terkadang kita tidak tahu dari mana dan dari siapa datangnya.

Mulailah kita awali dgn membagikan waktu kita sejenak dgn menforward artikel ini kepada seorang kawan atau sahabat yg membutuhkannya.

Source : http://roghuzshy.wordpress.com/

Rabu, 18 April 2012

214. Kisah si Penebang Pohon


Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.

Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”
“Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”. Kata si penebang.

“Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.

Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

Istirahat bukan berarti berhenti , Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi

Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru!